Rasputin: Kegelapan yang Bangkit (Bab 1)

 

Bab 1: Sumpah di Pinggir Sungai Beku

Angin malam yang membeku meniup melalui lorong sempit St. Petersburg, membawa dengan ia suara desis yang semakin jauh dan kelam. Suasana dingin menyesakkan dada, namun ada sesuatu yang lebih gelap yang menyelimuti malam itu. Rasputin—ahli sihir, lelaki suci, dan pembawa kerosakan—berjalan dengan langkah yang berat, dikelilingi oleh bayang-bayang dan ketegangan yang menggantung di udara.

Di dalam istana, pembunuh-pembunuhnya menunggu, tidak sabar untuk menuntut apa yang mereka kira sebagai balasan kepada pengaruhnya yang terlalu besar terhadap Tsarina Alexandra. Mereka sudah bersedia. Tak ada yang akan menghalang mereka kali ini.

Rasputin, walaupun terikat dengan kuasa yang hebat, tidak pernah merasakan ancaman seperti yang ini. Dia tahu—malam ini, takdirnya akan terikat pada darah. Pembunuhan itu sudah pasti.


Malam Pembunuhan

Mereka datang dalam senyap—terkawal dan terlatih. Para bangsawan, yang dulunya memujanya, kini mencerca dirinya dengan senjata yang tersembunyi di dalam bayang. Rasputin hanya tersenyum, mata merahnya berkilau di bawah sinar lampu gas yang temaram.

“Jangan fikir kau dapat mengelak,” kata salah seorang pembunuh, suara itu kasar dan penuh dendam. “Hari ini, semuanya berakhir.”

Rasputin tertawa perlahan, suara aneh yang seperti menggema dalam hati mereka. “Kau boleh cuba, tapi tidak akan pernah menghentikan apa yang telah aku mulakan.”

Sebelum mereka sempat melaksanakan rancangan mereka, satu tembakan dilepaskan ke arah dada Rasputin—peluru tajam menembus kulitnya.

Namun… Rasputin tidak jatuh.

Seperti makhluk yang lebih dari manusia, dia hanya tersenyum, jari-jarinya yang panjang bergerak perlahan, seolah-olah darah yang mengalir tidak memberinya kesakitan.


Penantian di Kegelapan

Mereka terus menyerang. Racun yang dimasukkan ke dalam arak, bertujuan membunuh, hanya mempercepatkan kehancurannya. Namun Rasputin tetap hidup, lebih lama daripada yang mereka jangkakan. Tiga tembakan lagi dilepaskan, satu demi satu. Dan untuk setiap tembakan yang mengenai tubuhnya, dia hanya bertambah kuat.

“Bagaimana…?” salah seorang pembunuh terkejut, melihat Rasputin berdiri tegak, matanya menembus ke dalam jiwa mereka, seakan menembusi kedalaman hati.

Dia hanya tertawa.

“Apa yang kalian tak fahami adalah ini—aku bukan hanya manusia,” katanya, suaranya serak, penuh dengan suatu rahsia yang menakutkan.

Sebelum mereka dapat memukulnya sekali lagi, Rasputin melangkah mundur, menghentikan langkah mereka dengan mata yang menyala marah. “Kalian akan menyesal. Dunia ini akan menyesal.”


Mati atau Bangkit?

Akhirnya, setelah kelelahan, mereka menikam jantungnya, menamatkan riwayatnya yang penuh dengan kekuatan gelap. Rasputin akhirnya jatuh ke tanah, tetapi bukan dengan tenang. Tubuhnya penuh luka, berdarah, dan akhirnya terkulai di tanah yang beku.

Namun, sebelum matanya tertutup untuk selamanya, dia mengucapkan satu sumpah, dengan suara yang hampir tak terdengar oleh mereka yang ada di sekeliling. Kata-kata itu tidak pernah hilang dalam angin malam yang dingin.

“Bersumpah di dunia ini… aku akan kembali. Kalian akan melihatku. Dunia ini akan menyaksikan kebangkitanku…”


Sungai Beku

Dengan secepat kilat, mereka membuang tubuh Rasputin ke dalam Sungai Neva, berharap dengan itu, mayatnya akan tenggelam dan membeku dalam air yang keras. Mereka ingin menghapuskan jejaknya, menguburkan sejarah yang kelam ini dalam es yang membeku.

Tetapi dalam kegelapan yang menutupi sungai, sumpah Rasputin yang terakhir mengalir dengan lebih dalam—lebih kuat—melalui sihir terlarang yang telah lama tertidur. Dalam keheningan malam itu, sesuatu yang aneh mula berlaku. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada kematian.


Kebangkitan

Di dasar sungai yang beku, tubuh Rasputin tidak hancur. Sihir kuno yang dia lafazkan mula mengalir melalui tubuhnya yang tidak mati, mengaktifkan suatu kekuatan terlarang yang selama ini terpendam. Suara bisikan yang terdalam bergema dalam dirinya.

Dia tidak akan hilang begitu sahaja.

Tubuh yang beku itu perlahan-lahan bergerak, tangan yang mati mula mengepal, dan mata yang seolah-olah tertutup, kini perlahan-lahan membuka kembali, dengan cahaya merah menyala. Di dalam keheningan malam, Rasputin bangkit kembali—bukan sebagai seorang lelaki, tetapi sebagai bayangan kegelapan yang membawa sumpahnya kepada dunia.


To be continued...

Ulasan

Catatan popular daripada blog ini

Keris Bersempuh Emas ( Bab 4 )

Himpunan Kisah Seram ( Episod : Tumpang)